Sabtu, 12 April 2014

Panduan Menyusun Tes Benar Salah, Pilihan Ganda dan Essay



Panduan Menyusun Tes Benar Salah
1.      Semua item dapat sihubungkan ke objek dan dimasukan dalam level kompleksitas subjek (indikator pencapaian kongnitif).
2.      Penentu spesifik sudah di hindari
3.      Sekitra setengah pernyataan yang salah
4.      Item tegas Benar atau Salah
5.      Item dinyatakan positif jika memungkinkan
6.      Petunjuk untuk siswa jelas
7.      Metode penilaian jelas bagi siswa
8.      Laporan tric telah dieliminasi
9.      Sumber bahan di paragrafkan sebelum dimasukan/disertakan pada tes

Panduan Menyusun Tes Pilihan-Ganda
A.    Items
1.      Tugas siswa jelas
2.      Metode penilaian untuk siswa jelas
3.      Kosa kata yang tersedia sesuai dengan kemampuan siswa
4.      Item bukan ukuran pendapat
5.      Item-item tidak bergantung pada item lain
6.      Pertanyaan-pertanyaan yang menjebak sudah dihilangkan
7.      Jika memungkinkan. Item-item telah dinyatakan secara positif
8.      Penggaris bawahan atau penekanan kalimat negative
9.      Petunjuk kepada siswa jelas
10.  Sumber materi telah diuraikan secara jelas sebelum dimasukan ke dalam tes.
B.     Stems
1.      Setiap ukuran batang tujuan penting tunggal pada tingkat dimaksudkan kompleksitas.
2.      Tata bahasa benar
3.      Kalimat panjang tidak penting
4.      Kalimat hanya mengandung informasi yang relevan
5.      Petunjuk spesifik telah dihilangkan
6.      Kalimat telah diuraikan dan bukan merupakan salinan
7.      Item-item bebas dari bias (jenis kelamin, suku, social, usia, agama dll)
8.      Jumlah ruang kosong di batang substitusi terbatas tidak lebih dari  dua-dan hanya bila diperlukan
C.     Options
1.      Pilihannya serupa
2.      Petunjuk spesifik telah dihindari
3.      Letak jawaban yang benar bervariasi
4.      Jawaban yang salah tidak bisa dipertahankan sebagai jawaban yang terbaik atau benar
5.      Semua jawaban yang salah masuk akal
6.      Jawaban yang benar adalah panjang yang sama dengan gangguan lainnya
7.      "Tidak ada di atas" hanya digunakan dengan benar-jawaban-jenis item.
8.      Kesesuaian nomor pilihan-pilihan telah disusun secara sekuen
9.      Pilihan-pilihan yang terlalu banyak (tumpang tindih) telah dihindari.
10.  Setiap item memiliki tiga hingga lima pilihan.
11.  Pilihan-pilihan tidak diisi dengan hal-hal sepeleh
12.  "Semua di atas" pilihan dihindari.
13.  Jawaban yang benar tidak bisa ditentukan sendiri oleh pilihan-pilihan yang diuji
14.  Pilihan-pilihan tidak berisi elemen-elemen yang umum yang bisa dimasukan dalam kalimat
15.  Tingkatkan pilihan yang sulit, sudah tepat
16.  Pilihan-pilihan yang benar dan terbaik tidak berisi kata-kata yang sama yang muncul dalam kalimat.
17.  Tidak lebih dari satu jawaban yang benar dan terbaik.






Panduan Menyusun Tes Essay
1.      Setiap item mengukur tujuan penting di dituju  tingkat kompleksitas (tidak tingkat 1,00 taksonomi Bloom). C2-C6
2.      Tujuannya diukur terbaik dengan esai.
3.      Tugas siswa pada esai dinyatakan dengan jelas.
4.      Metode penilaian yang memutuskan pada item waktu  ditulis.
5.      Sebuah perbedaan yang jelas telah dibuat antara esai  tes prestasi dan tes esai mengukur keterampilan menulis:
a.       Siswa menerima item yang sama pada esai tes prestasi
b.      Siswa diberi pilihan topik ketika isi pokok bahasan tidak relevan
6.      Instruksi kepada siswa menentukan bagaimana item akan diukur dalam kaitannya dengan sisa pemeriksaan.
7.      Makalah dibaca oleh lebih dari satu penilai, atau jika hanya satu penilai adalah mungkin, esai akan kembali dibaca oleh penilai yang sama.
8.      Makalah dibaca dengan nama siswa dihapus atau ditutupi.
9.      Hanya satu item dibaca pada waktu bagi semua siswa
10.  Item sebelumnya mencetak tidak melihat ketika mencetak item saat ini
11.  Siswa diberi informasi tentang kebijakan untuk mencetak tidak relevan atau salah tanggapan.
12.  Siswa diberitahu tentang prosedur penilaian dan kriteria untuk menetapkan peringkat.

Senin, 18 November 2013

Nasehat pada orang yang lelah di jalan Dakwah

MERASA LELAH DALAM DAKWAH...?


Ikhwati Fillah, mari kita renungkan fragmen berikut : “Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh…” Begitu keluh kesah seorang kader dakwah kepada murobbinya di suatu malam.
Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu “? sahut sang murobbi setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami. Juga dengan organisasi da’wah yang ana geluti ; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja..” jawab ikhwah itu.
Sang murobbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan ?” Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad’u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. “Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbi mencoba memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu datang ? Darimana antum mendapat makan dan minum ? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin ? serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.
Tak ayal, sang ikhwan menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan da’wah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” ( Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk. Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok ? antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya ? Tanya sang murobbi lagi.
Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesenggukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya …” Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berda’wah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan.. Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam da’wah. Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana ..” sang mad’u berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berda’wah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan..” papar sang murabbi.
“ Bila ada satu-dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap da’wah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.
Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah da’wah ini dapat berjalan baik “? sambungnya panjang lebar.
Sang mad’u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi, bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi da’wah dengan kapasitas ana yang lemah ini ?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. “Siapa bilang kapasitas antum lemah ? Apakah Allah mewahyukan kepada antum ? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain !” sahut sang murobbi. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya…”
Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan da’wah.
Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, dihempas gersangnya debu ‘wahn’ yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua menjadi saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh ALLAH SWT: kemenangan atau mati syahid.
Ikhwati fillah, Jalan ini, seberat dan sesulit apapun itu, seorang mukmin sejati akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam menjalaninya, kita akan dapat merasakan manisnya jalan ini, rasa manis yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat, menabahkan kita untuk terus menapaki dan mendakinya, dan menjadikan kita ridho terhadap-NYA, bahkan ketika melewati masa terpahit dan hari terberat sekalipun. kita akan selalu ingatkan siapa saja yang berniat mundur dari jalan ini : “Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah termasuk dosa yg besar di sisi ALlah dan hina di pandangan orang2 yg beriman..” sesungguhnya kita akan menemui masa-masa sulit, masa-masa yg melelahkan, dan berbagai ujian. Padahal kita tengah berada dan berjalan diatas jalan kebenaran dan disibukkan berbagai aktifitas dakwah. Tapi kita meyakini bahwa teguh diatas jalan ini dan sabar menghadapi berbagai, niscaya kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang, dan yg tersisa bagi kita adalah ganjaran dan pahala…
Kita selalu menyadari bahwa sesungguhnya amal islami bukanlah aktifitas sesaat..
amal islami bukanlah aktifitas yg cukup dikerjakan disaat kita memiliki waktu luang dan bisa ditinggalkan saat kita sibuk. Sekali-kali tidak…
Amal islami terlalu mulia dan agung. Sesungguhnya celah tidak akan pernah tertutup…
kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang ma’ruf tidak akan pernah terwujud kecuali dengan amal…
disinilah peran kita…
wahai saudaraku semua….
peran kita semua.
Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan…
Kita paham dan sadar bahwa agama ini hanya akan tegak diatas pundak orang-orang yang memiliki azzam yg kuat. Ia tidak akan tegak diatas pundak orang-orang yg lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah. Tidak akan pernah tegak agama ini hanya dengan ragu, termangu menjalin mimpi tanpa gerak maju…
Tidak akan pernah tegak agama ini tanpa kerja nyata, dan tercencang jeratan angan hampa….
Ada nasehat yg luar biasa dari Ibnul Qayyim rahimahullah…
“Wahai orang yang bersemangat banci..! ketahuilah, yang paling lemah di papan catur adalah bidak. Namun jika ia bangkit, ia bisa berubah menjadi menteri, bahkan ‘ster’…
nasehat tersebut sangat mengena buat kehidupan kita… betapa kita sering memiliki semangat yang banci dalam mengemban dan menapaki jalan ini, bukan semangat yg membaja…
kita hanya mau aktif dalam ‘zona nyaman’….
kita menjadi militan karena lingkungannua memang membentuk seperti itu, tapi sebenarnya kita rapuh…
kita sering dan mudah sekali mengeluh dan mengeluh, padahal kita belum mencoba berbuat sesuatu….
Semoga Allah merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut :
” Wahai orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki sepeser pun semangat, janganlah engkau bermimpi….
telah sirna manisnya masa muda dan yang tersisa hanyalah kepahitan dan penyesalan….
Jika Kesusahan adalah Hujan dan Kebahagiaan adalah Mentari Kita tetap membutuhkan keduanya Untuk melihat indahnya Pelangi
Begitulah aku mengibaratkan UKHUWAH ini Senantiasa saling melengkapi satu dengan lainnya Dan tak ku nafikan jika ada kekurangan yg terjadi di dalamnya Karena itulah ruang PEMAKLUMAN ini begitu terbuka luas untuknya Dan aku senantiasa belajar untuk dapat MEMAHAMI nya semoga begitu juga denganmu …